Arang Tempurung Sulut Diminati Filipina

Ilustrasi, Delegasi Filipina pada ASEAN Econimics Meeting di Manado. (Foto ANTARA Sulut/Basrul Haq/11) (1)

Alex Wowor : Kemungkinan Filipina akan mengambil dengan harga tinggi".
Berita Terkait
Manado, (Antara News) - Pemerintah Provinsi  (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut) menjajaki kerjasama ekspor arang tempurung kelapa ke Filipina dengan harga kompetitif.

"Tadi ada rapat dengan beberapa delegasi dari Filipina dan Satuan Kerja Perangkat Daerah  (SKPD) terkait,  membicarakan tentang ekspor arang tempurung kelapa," kata Asisten II Pemprov Sulut, Alex Wowor, di Manado, Rabu.

Menurutnya, dari hasil pembicaraan, Filipina akan membayar dengan harga yang cukup tinggi.

"Ekspor arang tempurung Sulut ke Jepang Rp6000 per kilonya. Tapi di Filipina kemungkinan akan lebih tinggi harga belinya," ujar mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sulawesi Utara ini.

Karena itu, kata Wowor, Pemerintah Provinsi Sulut akan menyiapkan secara administrasi dan kemudian ditindaklanjuti lagi dengan komunikasi antara Sulawesi Utara dan Filipina.

"Jadi hal-hal yang dibicarakan tadi mengenai potensi, mekanisme hingga peraturan akan disampaikan ke gubernur untuk ditindaklanjuti. Pembicaraannya harus fokus sehingga apa yang menjadi kendala kerjasama bisa diatasi," harapnya.

Lain halnya diungkapkan Kepala Bidang Bina Usaha Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulawesi Utara, Robby EG Awon, Rabu.

Menurutnya, tidak akan jadi persoalan ketersediaan bahan baku yang akan diekspor ke Filipina, namun kerjasama kedua pihak yang harus dikonkritkan.

"Pernah ada permintaan ekspor ke Malaysia. Namun pada akhirnya ditolak setelah bahan ekspor tiba di tujuan. Hal-hal seperti inilah yang harus dikonkritkan sehingga tidak menyulitkan pelaku usaha di daerah ini," kata Robby.

Dicontohkannya, Jepang sekarang ini menawarkan pengiriman arang tempurung lewat Pelabuhan Bitung. Pemerintah Jepang bersedia membayar  per kilonya Rp6.000.

"Kita konkritkan dulu perjanjiannya dan mekanismenya. Ketersedian bahan baku tidak jadi persoalan karena sumberdayanya cukup melimpah," imbuhnya.

Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar