BMKG : Sulut Pernah Alami Cuaca Ekstrim

AMANKAN PERAHU. Sejumlah nelayan mengamankan perahu dari hempasan gelombang tinggi dan cuaca buruk di Manado, Sulawesi Utara. (FOTO ANTARA/Basrul Haq/10). (1)

"Lima tahun terakhir ini daerah kita beberapa kali diterjang cuaca ekstrim seperti angin bertiup kencang, suhu dan curah hujan," kata Prakirawan Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi, BMKG Sulut, Nurhadi, di Manado, Rabu
Berita Terkait
Manado, (Antara News) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sulawesi Utara (Sulut) melalui Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi, Kota Manado, pernah mencatat perubahan cuaca dan suhu ektrim yang terjadi di daerah ini.

"Lima tahun terakhir ini daerah kita beberapa kali diterjang cuaca ekstrim seperti angin bertiup kencang, suhu dan curah hujan," kata Prakirawan Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi, BMKG Sulut, Nurhadi, di Manado, Rabu.

Dia mengatakan, untuk curah hujan normal per hari biasanya sekitar 50 milimeter, namun beberapa kali ada curah hujan yang tercatat melebihi 100 milimeter, curah hujan seperti ini biasanya sangat lebat.

"Sering terjadi di satu daerah kota/kabupaten tidak hujan, tapi di daerah lainnya malah hujan sangat lebat dan mengakibatkan banjir," kata Nurhadi.

Selain mencatat curah hujan yang intensitasnya berada di atas normal, BMKG juga pernah mencatat terjadinya angin kencang melebihi batas ekstrim 45 kilometer perjam. Bahkan menurut dia, di pesisir Timur pulau Sulawesi angin bertiup cukup kencang hingga 70 kilometer per jam.

Untuk angin kencang ini, kata Nurhadi, berkaitan dengan tekanan rendah sirkulasi Eddy yang membentuk pusaran angin luas serta pertumbuhan awan cukup banyak dekat Mindanao (Filipina) dan Maluku Utara serta Papua.

"Ini yang mengakibatkan angin bertiup cukup kencang dari arah barat sehingga menghantam daerah pesisir," ujarnya.

Perubahan cuaca ekstrim, kata Nurhadi, juga pernah terjadi di lima tahu terakhir ini. Biasanya suhu ekstrim seperti ini terjadi saat musim kemarau panjang akibat el nino.

"Suhu rata-rata normal biasanya 32 derajat selsius. Tapi kita juga pernah mencatat capaian suhu berada di atas 35 derajat selius," ungkapnya.

Meski demikian, menurut Nurhadi, fenomena-fenomena seperti ini masih perlu studi atau kajian mendalam. Apalagi gejala-gejala seperti ini erat kaitannya dengan perubahan iklim global.

"Mungkin saja ada pengaruh iklim secara global sehingga fenomena-fenomena seperti ini terjadi di Indonesia atau Sulawsi Utara. Memang untuk kejadian perubahan suhu, curah hujan, dan angin kencang hanya terekam beberapa kali di lima tahun terakhir ini. Tapi ini bisa menjadi catatan penting dan bahan evaluasi," harapnya

Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar