Gubernur Maluku Hadiri Natal Warga Ulath Sedunia

Ambon (ANTARA Sulsel) - Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu bersama sejumlah pejabat provinsi itu menghadiri perayaan Natal 2009 warga Negeri Ullath Ulath (Beilohy Amalatu), Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) sedunia yang digelar di Desa itu, Selasa malam.

Masyarakat Negeri Ullath yang pulang ke kampung halamannya untuk merayakan Natal tidak hanya berasal dari kota Ambon, Maluku, Pulau Jawa dan serta provinsi lain di Indonesia, tetapi juga warga Ullath yang berada di Belanda, Australia, Amerika serta Inggris.

Ibadah Natal dipimpin Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) Pendeta John Ruhulesin dan juga dihadiri para pejabat Kabupaten Malteng.

Ketua Sinode Ruhulesin dalam khotbahnya menegaskan, kelahiran Yesus Kristus bukan sekedar untuk penggenapan janji Allah bagi manusia, tetapi juga merupakan bukti cinta Allah untuk memberikan keselamatan dan pengharapan guna memperoleh hidup yang kekal bagi ciptaannya.

Dia menyambut baik perayaan Natal yang dihadiri seluruh anak-cucu Negeri Ullath itu sebagai bentuk komitmen bersama untuk menciptakan kedamaian di Maluku tanpa diwarnai kekerasan, tetapi penuh sukacita dan keadilan serta persaudaraan yang hakiki.

"Ini bentuk komitmen warga Ullath dimana pun berada untuk membangun hari esok yang lebih baik dan penuh cinta kasih dan perdamaian di Maluku," ujarnya.

Perayaan Natal, tandasnya, bukan merupakan sebuah rutinitas, tetapi harus memiliki kekuatan untuk menghimpun dan mempersatukan semua umat beragama untuk mewujudkan hidup baru yang penuh damai, cinta kasih dan persaudaraan yang abadi tanpa memandang perbedaan.

Sementara Gubernur Ralahalu memandang perayaan Natal itu tidak sekedar ritual, tetapi bukti kesadaran warga Ullath di mana pun berada untuk kembali melihat tempat kelahirannya dan bertekad memberi sumbangan lebih berarti bagi masa depannya.

Menurutnya, setiap perayaan Natal, maka umat dituntut memberlakukan hidup sejati dan berdamai sejahtera yakni kehidupan yang diajarkan Yesus Kristus untuk saling mengasihi dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Ralahalu juga meminta warga Ullath untuk mewartakan kabar sukacita akan kelahiran Juru Selamat itu kepada semua orang, sehingga ada perubahan dan pemulihan perubahan, serta memiliki rasa cinta yang kuat untuk membangun negerinya sendiri agar sejajar dengan negeri-negeri lain di Maluku.

Gubernur mengaku memaknai acara kumpul anak cucu Beilohy-Amalatu itu sebagai kebangkitan proses pemberadaban sipil yang progresif di dalam lajunya pertumbuhan dan perubahan sejarah kebudayaan masyarakat dewasa ini.

Menurutnya, dalam konteks adat maka negeri Ullath hanya dapat dibangun jika semua elemen adat dan sosialnya berfungsi baik, dan bukan sekedar pamer kemampuan, melainkan sebagai bentuk kepedulian warga untuk membangun peradaban diantara sesama warga negeri itu.

Dia berharap warga negeri Ullath dapat menjadi bagian tidak terpisahkan untuk memajukan berbagai program pembangunan di Pulau Saparua yang telah terkenal sebagai pintu terbukannya peradaban maju di Indonesia terutama di Maluku.

"Pulau Saparua harus diperhatikan dan dikembangkan secara khusus karena merupakan situs sejarah pertemuan Indonesia dengan bangsa-bangsa asing, karena sejarah membuktikan Bangsa Eropa pernah mengincar cengkih dan pala di pulau Saparua untuk dikuasai," tandasnya.

(T.PSO-119/Z002)