Hymne HOS Tjokroaminoto berkumandang di Muswil SI Sulut

Manado, (ANTARA Sulut) - “Hai jangan lupa pahlawan yang suci yang tulus ikhlas lagi gagah berani, Haji Oemar Said Tjokroaminoto mati membela Indonesia didalam naungan panji Islam” penggalan lagu tersebut yang menjadi hymne  Syarikat Islam (SI) Sulawesi Utara itu kembali berkumandang pada pembukaan Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-8 SI  setelah puluhan tahun tidak terdengar, dinyanyikan seluruh undangan,  menyebabkan beberapa peserta meneteskan air mata.

“Saya terharu mendengar lagu tersebut dan  ternyata pemikiran almarhum HOS Tjokroaminoto sejak dahulu sampai sekarang ini  masih relevan,  masih banyak warga SI di daerah Nyiur melambai  ini begitu mencintai almarhum HOS Tjokroaminoto dan Syarikat Islamnya”, kata Ketua Umum DPP Wanita Syarikat Islam (WSI), Valina Sungka.

Valina Sungka yang juga anggota kehormatan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat itu selanjutnya mengatakan,  HOS Tjokroaminoto merupakan  tokoh fenomenal dan bahkan melebihi tokoh-tokoh nasional lainnya.

“Beliu dengan gagah berani menyuarakan kemerdekaani bangsa Indonesia,  melawan feodalisme, melawan penjajah, jauh sebelum tokoh-tokoh nasional maupun ormas lainnya menyuarakannya”, kata Valina.

Muswil yang dipadati ribuan  warga SI Sulut itu dibuka Menteri Agama,Suryadharma Ali, diwakili kepala Kemenag Sulut, Sya’ban Mauluddin  mengulas kembali sejarah perjuangan tokoh sentral HOS Tjokroaminoto dikancah perjuangan bangsa Indonesia.

“Tidak dapat dinafikan peran dan kontribusi  besar telah  diberikan SI kepada bangsa dan negara ini, baik sebelum kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan. SI merupakan metemorfosa dari sebuah organisasi kemasyarakatan social yang bertujuan untuk membangun bangsa dan negara serta solidaritas dalam kancah pembangunan”, tegas Menteri Agama.

Ketua Umum DPP SI, Rahardjo Tjakranigrat sebelumnya mengatakan SI merupakan salah satu  ormas Islam tertua di Indonesia didirkan para pendahulunya semata-mata bertujuan  memerdekakan bangsa dan seluruh rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan.

“SI merupakan salah satu ormas terbesar yang mengalami berbagai persoalan didalamnya, namun tetap eksis sampai kapanpun untuk menyuarakan  keadilan,kebersamaan dan  kedamaian sebagaimana cita-cita luhur para pendahulu”, tuturnya.

Sementara itu, Ketua DPW SI Sulut, Abdul Azis Tegela  dalam pidato politiknya mengatakan SI Sulut dengan partainya pernah mengalamani zaman keemasannya di era 60-an hingga 70-an dimana  SI mendapat tempat istimewa dengan meraih suara signifikan pada Pemilu beberapa puluhan tahun lalu itu.

“Sejujurnya kita harus mengakui bahwa SI sekarang ini berada jauh dibelakang saudara-saudaranya seperti NU dan Muhammadiah serta ormas-ormas lainnya, kita jauh tertinggal dibelakang, hal ini disebabkan banyaknya konflik internal yang berkepanjangan dalam tubuh SI”, kata Azis.

Karenanya, mari kita semua bangkit, kita semua bergandengan tangan, rapatkan barisan menyongsong kebangkita SI kedepan dengan mendukung semua program pemerintah serta program SI kedepan”, pinta Tegela yang kemudian mendapat aplaus dari kaum Syarikat Islam.

Sementara itu, sejumlah tokoh Si menilai kedepan SI ini akan berjaya kembali apabila dipimpin oleh orang-orang yang mau melakukan perjuangan lahir dan bathin tanpa pamrih sebagaimana telah ditunjukan penjabat Ketua SI Sulut, Abdul Azis Tegela.

“Meski hanya dua bulan memangku jabatan sebagai ketua SI Sulut, namun Azis Tegela sudah bisa mempertemukan kembali warga Syarikat islam ini dengan baik melalui forum Muswil yang dipercayakan kepadanya”, kata tokoh SI Sulut, A.H. Djitro Tamengge dan Suleman Kiayi yang hadir pada malam itu.